sepenggal cerita pernikahan…
Posted in Selingkuh on 25/08/2009 by maureen80Melewati sepinya hari tanpa suara-suara yang biasa ku dengarkan sepanjang waktu, celotehan bawel mama yang kerap memarahi ku karna tak pernah bangun pagi… ugh, sungguh aku kehilangan semua momen-momen itu hingga suatu saat aku harus disadarkan dengan kenyataan bahwa kini aku harus jauh dari semua kebiasaan itu. Kini aku harus tau sendiri untuk bangun pagi, dan membereskan sarapan karna sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suami…
Hhhhh.. ternyata aku bukan lagi seorang anak manja yang pemalas, ijab kabul telah mengubah peran ku selama ini menjadi seorang istri yang jauh dari orangtua ku…
Aku hanya ingin belajar mencintai, karna titik ini takkan mungkin kembali seperti dulu. Kala ikatan masih terlalu rapuh untuk sebuah kata bernilai; selamanya. Aku hanya ingin belajar mengenal, sosok pria asing yang kini terlelap disampingku sepanjang malam bahkan untuk bermalam-malam berikutnya. Mendengarkan dengkurnya, atau gemelutuk gigi gerahamnya yang terkatup rapat seolah beruang ganas yang sedang melumat daging segar hasil tangkapannya. Aku hanya ingin mengerti, bahwa sekian banyak perbedaan dan kebutaan kami tentang satu sama lain telah berujung pada sebuah komitmen bernilai seumur hidup yang harus selalu diperjuangkan dan dipertahankan keutuhannya, ntah demi siapa. Demi janji ijab kabul, demi janji pada kedua orang tua kami, demi status atau demi meneruskan keturunan semata.
Hampir sepanjang malam aku terjaga, karena tidur ku tak lagi lelap seperti dulu. Ntah lah, rasanya masih sangat asing bersentuhan dengan seorang pria yang berstatus resmi sebagai suami ku ini.. mengerikan? I don’t know, karena sampai saat ini semua tali itu masih mencoba untuk saling dijalin dalam proses yang aku beri nama; penyesuaian. Ahk, betapa banyak perbedaan kami yang harus selalu dibungkus dengan kata; baik-baik saja, di depan orang banyak terutama keluarga besar kami. Terlalu letih kadang, untuk berpura-pura bahwa pernikahan ini membahagiakan aku.
Hei, aku baru menikah 18 hari tepatnya! Dan semua sudah terasa begitu membebani pikiran ku. Dua hari yang lalu aku baru saja disadarkan bahwa uban dirambut ku telah tumbuh lebih banyak dari biasanya, dan itu juga muncul di tempat yang baru. Begitu parahnya kah, sebuah pernikahan dengan sosok asing dalam hidup? Mungkin dibutuhkan lebih banyak energi untuk lebih mengerti dan menerima. Sekali lagi aku seperti ditampar, disadarkan untuk menerima kenyataan bahwa there’s no turning back point after the marriage. Menyesali keadaan tidak akan membuat perasaan ku menjadi lebih baik.
Dan semua wejangan dari keluarga ku tepat satu malam sebelum ijab kabul itu terjadi it was totally right! SABAR.. itulah sebuah kata kunci bagi perempuan, termasuk perempuan yang berjenis aneh seperti aku untuk melanggengkan rumah tangga. And it’s not easy, you know! Cuma lima huruf doang, tapi butuh pengorbanan hati dan airmata untuk mencapai tahap itu. Setidaknya bagiku begitu. Bagaimana mungkin perempuan temperamental dan berapi-api seperti aku harus bisa menerima kenyataan bahwa ada seorang lelaki yang pada saat tidak melakukan aktivitas terlalu penting bisa meminta segelas air dingin dari ku? Do it for yourself! Begitulah rutukku dalam hati. Namun aku pun harus melakukan apa yang dia minta karna begitulah nilai pahala itu akan mengalir bagi seorang istri bila mampu mengabdi dengan keikhlasan pada suaminya.
Ugh, nampaknya aku harus kembali lagi membuka niat lama ku di lembaran awal tentang ketakutanku akan sebuah pernikahan. Hmmh.. malam semakin larut, dengkurnya tak jua reda…hanya giginya yang tak lagi saling asah dalam lelapnya kini. Aku harus mengakhiri tulisan ini, just because tomorrow I should wake up as early as him, so I can prepare for his breakfast before he does his work.
Masih belom ada cinta di hati ini, tapi aku akan tetap belajar untuk mencintainya. Walau aku masih dilanda kebimbangan, bagaimana cara mencintai seorang asing dalam dunia mu?
Good night, guys…









