first from maureen80

Truth and Inspiring..

sepenggal cerita pernikahan…

Posted in Selingkuh on 25/08/2009 by maureen80

rindu ini untuknya…

Posted in Selingkuh, bahasa jiwa, hidup, love on 13/08/2009 by maureen80
Ntah mengapa aku masih merindukannya
rindu yang terlarang, pasti
namun aku masih mengingat
sudut terdalam sebuah cinta
tak pernah menyisakan masa lalu.

Semua itu masih terasa,
Seakan kemarin atau sedetik yang lalu
Ntah mengapa aku masih mencarinya
berharap ia melakukan yang sama
berbagi cinta dalam sunyi,
karna hanya itu yang dapat kami lakukan.

Tak mungkin semudah itu
bagiku untuk menyimpannya rapat
terlalu banyak kenangan di dalamnya

“…dan begitulah cinta telah menyihir jiwa, merasuk tanpa terkendali..”

Maaf [ Lagi & Lagi ]

Posted in bahasa jiwa, cerita hati, hidup on 09/05/2009 by sanglelaki

Maaf

Sehubungan dengan sang perempuan tidak memiliki kesempatan untuk Online, dan menulis postingan,

serta menyapa kawan - kawan dblogger’s semua nya,
maka blog ini di non aktif kan sementara,
sampai pada nanti, sang perempuan memiliki waktu yang cukup untuk menyapa kembali kawan - kawan semuanya
mudah - mudahan tidak dalam waktu yang lama sang perempuan akan kembali lagi

Salam

Sang Lelaki

PANGGIL AKU KARTINI!

Posted in cerita hati, love, perempuan, wanita with tags , on 19/04/2009 by maureen80

Siapakah aku, yang terlahir menjadi perempuan? Atau tertakdirkan menjadi perempuan?

Siapakah aku, yang lahir menjadi mahluk perasa, kali ini jangan sebut cengeng! Karna aku tak pernah ingin menjadi cengeng… meskipun jujur aku harus mengakui airmata ini kerap turun bila tak semua mau ku menjadi kenyataan, bila lelaki ku memarahi ku atas nama cinta…

Siapakah aku, yang bernafas di dunia ini dengan paru-paru yang lemah… menghirup oksigen dengan susah payah akibat kelainan jantung yang aku derita… berminggu-minggu hanya dalam ruang perawatan rumah sakit demi membuat hidupku tersambung sedikit lebih lama…

Siapakah aku, yang harus tumbuh dan hidup dengan keterbatasan diri… masa kecil penuh proteksi oleh kedua orangtua ku hanya karna mereka tak ingin aku lebih sering berkunjung ke rumah sakit ketimbang ke kebun binatang yang paling aku sukai…

Siapakah aku, remaja yang ingin berbuat bebas seperti mereka layaknya penuh bunga cinta… namun aku sadar aku bukan siapa-siapa bila tak mengukir prestasi.. Aku harus belajar lebih banyak lagi dari kemarin, karna aku tak ingin wanita lemah seperti aku ini mati tergilas persaingan hidup dengan yang lain… kondisi fisik ku tak memungkinkan aku untuk melakukan banyak hal di dunia ini. Jelas aku harus punya kelebihan yang bisa aku andalkan untuk kehidupan ku..

Siapakah aku, perempuan yang lulus dengan nilai cum laude namun tak segampang itu untuk mencari nafkah.. berjuang penuh upaya, bersaing dengan debu jalanan dan trotoar dari kantor ke kantor membawa map dan berpakaian rapih..? namun tak satupun yang menerima aku… hanya karna jantung ku bermasalah. Oh, adilkah??

Siapakah aku, yang akhirnya hanya ingin mandiri tanpa harus mengemis pada kedua orang tua ku. Memulai usaha sedikit demi sedikit, mengalahkan susah nya mengerjakan tugas kuliah di waktu dulu… pernah suatu ketika saat aku ingin menyerah, kalah dan menangis… saat tak satupun yang memberikan aku kepercayaan untuk usaha, saat tak satupun pria yang sudi menambatkan cinta nya untuk ku, saat ibu ku pun harus pergi karna waktunya di dunia ini sudah berbatas… semua itu seperti tikaman tiada henti menghujam di dada ku.

Siapakah aku, yang saat itu 21 April dan sosok Kartini pun muncul dalam berbagai peringatan seremonial. Ntah mengapa akupun mencoba menelusuri tentang Kartini dan perjalanan hidupnya di masa lampau. Dan ratusan sosok wanita lainnya yang hidup setelah Kartini telah menjadi seorang tokoh insiratif bagi dunia perempuan. Mereka semua bisa, mereka semua mampu… kenapa aku mesti menyerah? Mengapa aku ingin berhenti disini? Sedang masih banyak hal yang bisa aku lakukan di dunia ini…

Siapakah aku, yang akhirnya mencoba untuk bangkit dan melawan kerasnya hidup… perlahan dan penuh do’a aku melangkah mengikuti kata hati ku untuk bisnis kecil-kecilan. Untung dan rugi pasti pernah kulewati, dan setiap hal adalah pelajaran yang berharga bagi ku.. namun kekuatan usaha bersama do’a yang kupanjatkan terus menerus membuat dunia itu benar seperti roda dalam putaran hidup ku… hidup yang menginjak-injak tulang ku perlahan mengangkat ku menjadi lebih baik…

Siapakah aku, saat usaha kecil ku berkembang pesat… dan membantu ratusan teman-teman ku yang lain untuk menggantungkan hidup mereka di usaha ini semakin ku bersemangat untuk tetap bertahan… disaat itu pula aku bertemu dengan seorang pria yang percaya bahwa aku mampu menjadi istrinya dan akhirnya ia menjadi ayah dari anak-anak ku…

Siapakah aku, seorang perempuan yang tak sempurna, pekerja, istri dan satu lagi peran yang paling mulia ku anggap di muka bumi ini yaitu ibu dimata anak-anak ku… hanya sebuah impian yang sederhana yang aku miliki hingga saat ini, bahwa aku akan beranjak meninggalkan senja menuju usia ku yang semakin tua dengan cinta dan dukungan oleh orang-orang yang ada disekitar ku.

Siapakah aku, saat keriput ini tak terelakkan lagi dan kendali usaha pun sudah di tangan cucu… semua bilang aku sukses, aku berhasil namun aku hanya tersenyum getir… bahwa dulu pernah disuatu masa, aku ingin menggantungkan hidup ku pada seutas tali yang bergantung di kusen pintu kamar tidur ku… namun kisah Kartini, dan ratusan kartini lain mampu mengubah kelemahan ku menjadi sumber kekuatan ku.

Siapakah aku? Sudah lah… tak perlu tau siapa aku, teman… saat ini aku hanya ingin dipanggil Kartini. Meskipun namaku terlahir bukan itu. Ya, saat ini aku hanya berharap bahwa kelak semua yang mengenalku akan mengingat aku sebagai salah satu Kartini. Dan itu cukup bagi ku.

kiriman sepaket cinta…

Posted in cerita hati, iseng2, love on 17/04/2009 by maureen80

Doohh, senengnya seharian itu… gak kebayang capeknya bepergian keluar rumah dan ngurusin ini itu, pas pulangnya miss Maureen dikagetkan dengan sebuah kotak kiriman bom. Pura-pura kaget aja siy, tapi sebenarnya udah tau bakalan dapet kiriman romantis dari lelaki ku…

Pas di buka isi nya??? Horeeee… langsung dengan kemampuan photography yang ala kadarnya ini sok ngatur-ngatur gaya… hasilnya, bisa di cek sendiri deh… “document insert” *halaaahh… bahasa loe, tuw peaaanngg… sok jurnalis bangeeedd… salah pulak tuuww!!

dsc01460


Pasti temen-temen mikir dengan ajaib dehh, kok bisa yaa?? Si gothic ini dapet kiriman kopi jatah sebulan?

Caranya mudah, ketik REG spasi KOPI GRATIS dan kirim ke 8360” dijamin pulsa temen2 sekalian terpotong sia-sia …

Sekali lagi, ketik REG spasi KOPI GRATIS trus kirim ke 8360…

*wooiii!! Stoooppp… iklan banged siy otak loe, reen??

Iye, back to content dehh…

Nah, diantara kiriman kopi yang mak nyuuuss itu ada terselip 3 lembar duit ratusan ribu kertas berisi tulisan tangan lelaki ku, dan curahan ceritanya dalam penggalan puisi cinta… yeaahh, as the information listed below, lelaki ku ini udah terkenal seantero dunia blogdetik (* halaahhh… lebaaaayyy..!!) dengan tulisan2nya yang menyesakkan rongga pemikiran kita untuk mengerti apa yang ia rasakan… dan aku sungguh beruntung banged mendapatkan puisinya. Oke dehh, aku zoom lage.. biar keliatan betapa tulisannya yang acak-acakan itu gak jauh beda sama mukanya otak nya lelaki ku aku… you may take a look dehh, fellas…

dsc00233

Dan puisinya?? Yeeuuppp… aku jepret juga tuww…

dsc00236

dsc00235

Lho kok, bureeemm?? Gak jelas gitu kata2nya apaan…

* ya iyyyaaa laaahh… klo keliatan jelas tulisannya di puisi apaan, tar yang laen pada ngiri lagee… wk wk wk…

Well, sutra laah tentang kiriman paket yang membuat ku praktis senyum2 bahagia sambil baringan dan membaca tulisan tangan dari lelaki ku yang penuh keterpaksaan. Karna baru kali ini aku sukses sebagai seorang perempuannya meminta beliau untuk seumur-umur idupnya nulis surat cinta… (* ceilleeee….!!)

Anyway, jujur aja ini adalah hasil kesuksesan dirinya kemarin2 itu sebagai salah satu pemenang sayembara sista easy, dapetin hadiyah dari sponsor torabika. Tentu aja aku yang selama ini diakuin sebagai perempuannya, gak ketinggalan dapetin rejeki kopi juga… yess… so lucky me..!! :D

Sampai berita ini diturunkan, jumlah kopi tinggal beberapa sachet lage… tinggal nunggu kiriman kopi berikutnya lage deh, dari lelaki ku… *buseeeett… situ maruk banged yaa?? Napa gak minta kiriman bandrek aja sekaliyaaann?!?!?

Hihihi, ya maap atuuhh… namanya juga keinginan hati nurani, syapa tau dikabulkan lage… :P

Sekali lagi tengkyu so much, lelaki ku… atas segalanya…

Postingan ini aku dedikasikan khusus untuk dirimu…

(… aku pun kehilangan…)

Posted in bahasa jiwa, saudara on 07/04/2009 by maureen80
Saat hujan mempermainkan hatiku
menabuh pilu dalam setiap tetesnya
alangkah risau saat aku memeluk sepi
namun kabut memaksa jiwa mengabur
Saat gelombang itu menerjang takdir
lelap pun menjadi isak setiap kehilangan
mengeringkan jutaan airmata
dalam nisan-nisan tak bertuan
Kau paksa aku lagi
untuk berteriak ampun
memohon maaf
bersimpuh sujud
Kau paksa aku mengakui
Kuasa
Kehebatan
Arogan-Mu
Semoga mereka baik-baik saja
Seperti tempat yang pernah Kau janjikan
Disanalah mereka menunggu kami yang tersisa

( tak pernah pisah… )

Posted in Selingkuh on 02/04/2009 by maureen80
Saat engkau merasakan amarah, kekasih…
Aku selalu ingin ada disamping mu
Membelai jiwa mu, sekedar membuatmu nyaman
Waktu kita tak lama lagi, kekasih…
Jangan biarkan emosi menggerus hati
Karna tak satupun yang harus kehilangan

I’m back…!!! yippiiieee…. :D

Posted in Selingkuh on 31/03/2009 by maureen80

[Maaf]

Posted in Tak Berkategori on 21/02/2009 by maureen80

..Maaf..

Dikarenakan Ada Sesuatu Hal yang menyebabkan tidak bisa Untuk Online,

..Maka..

Lanjutan cerpen untuk part #3 Yang seharusnya diposting pada tanggal ganjil , Harus mengalami penundaan

Mudah - mudahan bisa diposting di hitungan hari ganjil berikut nya

Salam miss gothic

:)

perjalanan, persahabatan (part: TWO)

Posted in cerita hati, hidup, saudara with tags on 19/02/2009 by maureen80

Tiba di Lombok ke lima sahabat pun segera tak menyia-nyiakan waktu mereka untuk segera menuju kaki gunung Rinjani. Bersama porter yang ada, mereka pun bergerak dan memilih jalur Sembalun Lawang. Sungguh kebahagiaan yang terulang kembali bagi kelima sahabat ini berjalan beriringan, melewati pos I kemudian menuju pos II mereka memutuskan untuk menginap di pos II mengumpulkan tenaga untuk besok lagi. Wandi bersama porter dan Hendro seperti biasa kebagian jatah untuk mendirikan tenda dan membereskan persiapan untuk istirahat sedang Tarjo, Bowo dan Kasmin kebagian kerjaan untuk menyiapkan makanan berupa mie instan dan kopi untuk dinikmati semua teman-teman. Canda dan tawa mereka saat mengenang masa-masa di SMA pun kembali dalam ingatan sambil menikmati santapan malam…

“Waahh, Jo.. untung aja pak Sugeng ndak tau siapa yang gembosin ban motor nya yang butut itu” gelak Hendro kala mengingat kelakuan nekat Tarjo

“Ya iya laahh, siapa juga yang ndak kesel setengah mati liat Nuning di deketin sama guru tua kayak dia itu… lagian kalian aja yang gak pernah tau, kalau aku pernah diancem sama si Sugeng jangan deketin Nuning” ucap Tarjo sambil terlihat kesel mengenang masa lalu itu

“Hahaha… terus, inget gak waktu kita berantem sama anak STM? Ahk tawuran paling ngaco!” Wandi pun tak lupa mengingat-ngingat saat-saat tawuran

“Ahk, Sudah! Itu memalukan… Kasmin lari terkencing-kencing karena gak menduga lawan nya sebesar sumo…” ledek Bowo sambil melirik Kasmin

“Jangan dibahas.. kalian pasti tau kenapa aku tak mungkin membiarkan muka nya bonyok dihajar gratis anak-anak STM itu! Aku masih mau ciuman sama Astuti besoknya, bukan kencan dengan muka lebam..” Kasmin yang bertubuh paling kecil diantara teman-temannya membela diri

“O iyaa… gimana kabarnya Astuti yaa? Si Warni juga? Kutu buku yang selalu sok pintar di depan wali kelas, menyebalkan!” Tarjo memotong pembicaraan

“Astuti kabarnya tinggal di Malang, sudah menikah sama pria yang dikenalin orangtua nya. Dari Rini temen sebangkunya yang setahun lalu ketemuan sama aku, Astuti sudah punya anak satu, aku lupa lanang opo wedok…” ujar Bowo pada Tarjo

“Kalo si Warni aku tau… dia sudah bekerja di Jakarta, di dinas perpajakan… sesuailah, sama mukanya yang mirip kalkulator berjalan itu…” seru Wandi sambil terpingkal

“Hahaha…. “ Taklama tawa semua sahabat pun berderai…

Malam semakin larut, dingin yang mulai terasa tak nyaman bagi kulit mereka membuat merekapun segera meringkuk dalam sleeping bag masing-masing..

Keesokan pagi nya mereka segera bersiap dan bergegas melanjutkan perjalanan. Porter yang mereka bayar sepertinya sangat sigap dan cekatan dalam memimpin perjalanan mereka.. hingga akhirnya mereka mencapai bukit penyesalan, yang lebih mereka pilih ketimbang tanjakan derita… kedua pilihan yang sama saja tidak mengenakkan tetapi mereka memang tidak menyesal telah memilih tanjakan penyesalan, karena ini memang telah berdasarkan pengalaman mereka sebelum-sebelumnya.. memandang sabana dengan rumput-rumputan setinggi dada manusia merupakan pemandangan yang tak pernah bosan bagi kelima sahabat ini. Jam menunjukkan pukul 4 sore ketika mereka telah tiba di pos III yaitu pos Pelawangan 2. Dari sini terlihat Danau Segara Anakan yang sangat luar biasa indahnya, Bowo dan Tarjo pun segera mengambil kamera digital yang telah dipersiapkan untuk mengabadikan keindahan Danau ini. Kasmin memilih menjauh dari rombongan sekedar ingin berdiam diri dan menikmati suasana hening dari alam. Kembali Wandi dan teman-teman mendirikan tenda untuk mereka beristirahat, karena perjalanan berikutnya yang dihadapi semakin berat mengingat tanjakan semakin curam serta jalanan berpasir mau tak mau membuat langkah kaki terasa berat.

Dini hari sekitar jam 3, kelima sahabat pun bergerak lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Taklama pukul setengah tujuh pagi mereka pun telah tiba di puncak Rinjani, udara dingin berkabut yang menusuk pori-pori kulit mereka membuat penaklukan Rinjani pun hanya dihabiskan tak lebih dari 30 menit.

Perjalanan menuruni puncak Rinjani tak kalah sulitnya dengan menaiki puncak Rinjani ini… setengah berlari mesti mampu menjaga kecepatan langkah kaki agar tak terjatuh dan beresiko masuk ke dalam jurang.

Wandi yang ntah mengapa kehilangan keseimbangan akibat adu balap yang berlari menuruni jalanan, tak terasa kaki Wandi pun melompat menjejak batuan, rumputan padat ataupun melompati akar-akar kehilangan keseimbangan membuat dirinya terpeleset dan beban 15 kg di punggung berikut tubuhnya membuat lutut Wandi lecet, jeans yang ia kenakan pun sobek. Beruntung para sahabat yang lain segera menolong Wandi untuk bangkit. Sedikit tertatih perjalanan Wandi akhirnya mereka pun kembali tiba di Pelawangan. Bowo, Tarjo, Hendro dan Kasmin pun bergantian memijat kaki Wandi dan memberikan salep untuk meredakan pegal serta menghilangkan nyeri di kaki Wandi. Hatinya terenyuh saat melihat keempat sahabatnya saling kompak menolong dirinya dengan perhatian yang luar biasa.. menginap di pelawangan selama 2 hari pun dimanfaatkan mereka kembali untuk beristirahat serta menikmati keindahan Danau Segara Anakan. Memancing ikan-ikan yang besar untuk menu makan, berfoto-foto menjadi kegiatan mereka selama disana…

Ada sesuatu yang terus terkenang disana, khususnya bagi Wandi…

———————————-( to be continued )————————————-

perjalanan, persahabatan… (part: ONE)

Posted in cerita hati, hidup, saudara with tags on 17/02/2009 by maureen80

Wandi tadi siang pamit dengan ibunya… dengan berseri-seri dirinya membayangkan akan menghabiskan waktu seminggu bersama para sahabatnya dari sejak SMA yang masing-masing telah lama terpisah karena bekerja di kota yang berbeda…

“Bu, Wandi pamit yaa… udah ditungguin sama temen-temen nih..” ucap Wandi sambil mencium punggung tangan sang ibu

“Walaahh, kamu ini… ambil cuti bukannya istirahat nemenin ibu kok malah jalan2 sama temen-temen kamu sih naakk?” terdengar sedikit nada kecewa dari ibunya Wandi

“Waa.. ibu ini piye tho? Aku justru ambil cuti barengan sama temen-temen ku supaya bisa kumpul barengan lagi seperti dulu… lumayan itung-itung reunian naik gunung Rinjani kayak dulu…” Wandi membela dirinya sambil berjalan menuju ruang tamu

“Aapaaaa..?? jadi kamu udah pernah naek gunung Rinjani tho naakk?? Kapan ituu? Kok ibu selama ini gak pernah tau?” ibu Wandi terlihat kaget saat wandi mengakui pernah naik gunung sebelum ini

“Hehehe… iya bu… maaf, dulu-dulu aku ndak pernah kasih tau pergi naik gunung… pasti bapak sama ibu gak akan izinkan aku.. makanya pergi sembunyi-sembunyi dehh.. bilangin nginep di kampung Tarjo atau ke rumah pakde nya si Kasmin.. buktinya kan aku sehat walafiat aja tho bu??” sembari cengengesan Wandi menerangkan masa lalu nya yang kerap membohongi ibu dan bapak nya

“Wandi, Wandi… kenapa kamu tega nak, bohongin ibu dan bapak.. sejak kapan kami mengajarkan berbohong di rumah? Pasti ada alasan, mengapa kamu waktu SMA dulu dilarang pergi-pergi naik gunung.. biar gimanapun, kamu ini anak ibu yang kecil.. mas dan mbak mu sudah pada pergi jauh merantau. Kalau kamu kenapa-kenapa apa kamu gak kasian sama ibu dan bapak yang udah tua kesana kemari mencari kamu?” desis sang ibu lemah…

“Alaaahhh.. ibu… malu aku kalo dicariin… bisa diledekkin temen-temen ku seumur hidup ntar bu…” jawab Wandi sambil mengenakan sepatu kulitnya

“Eealaaahh, ini anak… sampeyan gak tau apa ya, barusan ibu lihat berita di TV ada sekumpulan anak-anak mahasiswa yang di cari oleh tim SAR karena kehilangan kontak dan sudah lebih dari seminggu. Ibu sama sekali gak mengharapkan ada yang pulang jadi almarhum, nak.. tapi bila saja kejadian ini menimpa ibu, sedang kamu pergi tanpa pamitan.. bisa-bisa ibu sama sekali gak akan mikir panjang seandainya ada berita di TV seperti ini… amit-amit jabang bayi…” terdengar nada penuh ke khawatiran dari ibu…

“Hmmh… iya bu… dulu aku sih enggak pernah mikir sampe begitu jauhnya… sekarang aku udah nyadarin semua itu kok bu… dan makanya sekarang ini pamitan.. aku pergi berlima bu, sama Tarjo, Bowo, Kasmin, dan Hendro. Semua nomer Hp temen-temen ku sudah aku tuliskan di kertas dan aku letakkin di meja baca bapak. Kalau ada apa-apa ibu hubungi aja nomer hp aku atau temen-temen ku.. tapi kalo hp gak aktif ya mungkin saja sinyal nya kurang bagus atau batre nya udah nge-drop… maklum di hutan gak mungkin ada charger, bu…” akhirnya Wandi berdiri setelah sepatunya terpasang dan memeluk tubuh ibunya erat..

“Yaa, hati-hati kamu ya naak.. jangan macem-macem…” nasihat sang ibu

“Sepp, bu.. palingan tar pulang aku dah bawa mantu buat ibu… hehehe…” canda Wandi

“Wandi, ibu ndak rela kamu bawa monyet betina ke rumah ini…” protes ibunya segera

“Idiihhh… Ibu, becanda kaliiiii…” ucap Wandi sambil nyengir

“Lah, kamu nya sih keterlaluan… nyari istri kok di hutan?” ujar ibu sambil mencubit pinggang Wandi

……………………………………………….

Sesampainya di rumah Bowo, ternyata keempat temen-temen Wandi telah berkumpul semua.

“Ahk, selalu saja si kampret ini yang telat kalo urusan ngumpul-ngumpul… dari dulu gak pernah berubah!” omel Hendro pada Wandi

“Hehehe, ahk kalian ini kaya’ gak pernah tau aja… aku mesti pamitan sama ibu ku yang tercinta itu bagaimana prosesnya…” Wandi membela dirinya

“Iye, tau… loe mau pamitan kan kaya’ nunggu proses lahiran… lamaaaa…” ledek Bowo yang sekarang makin item aja kulitnya

“Sabarlah pren..!! kalian emang mesti nungguin aku… jelas-jelas aku bintang tamunya disini…” ucap Wandi cengengesan tak menentu

“Udah, kalo gak mikirin loe bakal nangis 7 turunan karna kita tinggalin, pasti kita-kita udah pada nekad ninggalin loe…” Tarjo akhirnya tak tahan lagi dengan gaya Wandi yang keliatan selangit

“Stop stooopp… sekarang kita cek ulang lagi perlengkapan, jangan ada yang ketinggalan..” Bowo pun akhirnya berusaha menengahi

“Tenda!”

…Bereeess!!

“Tali!”

…Adaaa!!

“Senter!”

…Kompliiitt

“Konsumsi!”

…Okeee

“Rokok dan kopi!”

…Lengkaaap

“Sleeping bag!”

…Siaaaapp

Sepertinya semua perlengkapan yang mereka butuhkan telah lengkap… sejak awal memang kelima sekawan ini sudah saling berbagi dengan tugas dan tanggung jawab untuk persiapan naik gunung. Hingga ntah kenapa, tiba-tiba Tarjo terlihat sedikit cemas…

“Jo, loe kenapa? Kok pucet gitu sih?” Wandi bertanya pada Tarjo

“Ngg… anu… aku ada yang kelupaan nih!” jawab Tarjo kebingungan

“Apa yang lupa, Jo? Mumpung lom bergerak niy, bisa dilengkapin ajaa..” Kasmin pun bertanya pada Tarjo

“Itu… kolor… sepertinya kolor ku ketinggalan, diatas tempat tidur…” ucap Tarjo sambil menggaruk-garuk kepalanya

“Haaalaahhh!! Piye tho, kok pake ketinggalan segala sih?! Ya sudah, nasib mu gak pake kolor disana!” ujar Kasmin kembali

“Yaahh!! Tega bener kamu… gak kasian ya, sama cucak rawa ku ini??” ringis Tarjo sambil mengelus celananya..

“Sepertinya kalo untuk balik ke rumah mu kejauhan, Jo.. mendingan kamu pinjem kolor aja sama Bowo. Kan beres..!!” saran Wandi pada Tarjo

“Bole juga tuw ide loe! Wo, pinjemin aku kolor mu dong…” rengek Tarjo pada Bowo

“Wahhh, mao kolor ku yang mana? Tinggal pilih aja…” seru Bowo sambil ngajak Tarjo ke kamarnya

“Yang mana aja dehh, asal jangan yang renda-renda yaa??” ledek Tarjo nakal

“Sempruuulll!! Enak aja loe! Aku gak ada yang renda-renda…!! Klo g-string mah ada… kolor klo lagi mangkal!” ujar Bowo sambil melempar kotak rokok nya pada Tarjo

“Hehehe.. aku ambil yang warna kuning ahk… sesuai sama partai yang kupilih ntar..” ucap Tarjo ngawur sambil nyomot 2 buah kolor dari lemari bajunya Bowo

“Jo, kok ambilnya cuma 2 aja sih? Kita kan beberapa hari… kurang ntar!” Wandi pun bertanya pada Tarjo

“Ahk, gampang laaa… kan bisa dipake side A dan side B nya… jadi 2 kolor untuk 4 hari…” bales Tarjo nyantai…

Kasmin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan jawaban Tarjo.

Tiba-tiba, Hendro berseru panik “ Jaahhh!! Aku pun ketinggalan sesuatu nih…”

“Apalage, kiwiiiiilll??” teriak Wandi dan Bowo serempak

“Hihihi, anu… majalah playboy… biar gampang klo nanti mau di keluarkan” jawab Hendro perlahan

“Siaaall..!!! dari dulu otak loe itu gak jauh-jauh dari 5 jari… ehk, kita ini mo naek gunung, kaleeee!!” protes Bowo pada sahabatnya ini.

Tak lama mereka pun segera bergerak naik kendaraan umum menuju bandara Juanda untuk terbang menuju Lombok…

————————————( to be continued )——————————————

( …Masa lalu… )

Posted in bahasa jiwa, love with tags , on 15/02/2009 by maureen80
Tidak kah kau merasa malu,
datang kembali mengucap rindu
setelah bilur-bilur kau endapkan
pada luka bernafas airmata

Tidak kah kau merasa pantas,
sekian lama mengurai aksara
sedang mimpi pun takkan pernah
ku biarkan kau datang lagi


Ps: Mengertilah, masa lalu ku… letak mu hanya jauh disana.