perjalanan, persahabatan (part: TWO)

19 Feb 2009

Tiba di Lombok ke lima sahabat pun segera tak menyia-nyiakan waktu mereka untuk segera menuju kaki gunung Rinjani. Bersama porter yang ada, mereka pun bergerak dan memilih jalur Sembalun Lawang. Sungguh kebahagiaan yang terulang kembali bagi kelima sahabat ini berjalan beriringan, melewati pos I kemudian menuju pos II mereka memutuskan untuk menginap di pos II mengumpulkan tenaga untuk besok lagi. Wandi bersama porter dan Hendro seperti biasa kebagian jatah untuk mendirikan tenda dan membereskan persiapan untuk istirahat sedang Tarjo, Bowo dan Kasmin kebagian kerjaan untuk menyiapkan makanan berupa mie instan dan kopi untuk dinikmati semua teman-teman. Canda dan tawa mereka saat mengenang masa-masa di SMA pun kembali dalam ingatan sambil menikmati santapan malam

Waahh, Jo.. untung aja pak Sugeng ndak tau siapa yang gembosin ban motor nya yang butut itu gelak Hendro kala mengingat kelakuan nekat Tarjo

Ya iya laahh, siapa juga yang ndak kesel setengah mati liat Nuning di deketin sama guru tua kayak dia itu lagian kalian aja yang gak pernah tau, kalau aku pernah diancem sama si Sugeng jangan deketin Nuning ucap Tarjo sambil terlihat kesel mengenang masa lalu itu

Hahaha terus, inget gak waktu kita berantem sama anak STM? Ahk tawuran paling ngaco! Wandi pun tak lupa mengingat-ngingat saat-saat tawuran

Ahk, Sudah! Itu memalukan Kasmin lari terkencing-kencing karena gak menduga lawan nya sebesar sumo ledek Bowo sambil melirik Kasmin

Jangan dibahas.. kalian pasti tau kenapa aku tak mungkin membiarkan muka nya bonyok dihajar gratis anak-anak STM itu! Aku masih mau ciuman sama Astuti besoknya, bukan kencan dengan muka lebam.. Kasmin yang bertubuh paling kecil diantara teman-temannya membela diri

O iyaa gimana kabarnya Astuti yaa? Si Warni juga? Kutu buku yang selalu sok pintar di depan wali kelas, menyebalkan! Tarjo memotong pembicaraan

Astuti kabarnya tinggal di Malang, sudah menikah sama pria yang dikenalin orangtua nya. Dari Rini temen sebangkunya yang setahun lalu ketemuan sama aku, Astuti sudah punya anak satu, aku lupa lanang opo wedok ujar Bowo pada Tarjo

Kalo si Warni aku tau dia sudah bekerja di Jakarta, di dinas perpajakan sesuailah, sama mukanya yang mirip kalkulator berjalan itu seru Wandi sambil terpingkal

Hahaha. Taklama tawa semua sahabat pun berderai

Malam semakin larut, dingin yang mulai terasa tak nyaman bagi kulit mereka membuat merekapun segera meringkuk dalam sleeping bag masing-masing..

Keesokan pagi nya mereka segera bersiap dan bergegas melanjutkan perjalanan. Porter yang mereka bayar sepertinya sangat sigap dan cekatan dalam memimpin perjalanan mereka.. hingga akhirnya mereka mencapai bukit penyesalan, yang lebih mereka pilih ketimbang tanjakan derita kedua pilihan yang sama saja tidak mengenakkan tetapi mereka memang tidak menyesal telah memilih tanjakan penyesalan, karena ini memang telah berdasarkan pengalaman mereka sebelum-sebelumnya.. memandang sabana dengan rumput-rumputan setinggi dada manusia merupakan pemandangan yang tak pernah bosan bagi kelima sahabat ini. Jam menunjukkan pukul 4 sore ketika mereka telah tiba di pos III yaitu pos Pelawangan 2. Dari sini terlihat Danau Segara Anakan yang sangat luar biasa indahnya, Bowo dan Tarjo pun segera mengambil kamera digital yang telah dipersiapkan untuk mengabadikan keindahan Danau ini. Kasmin memilih menjauh dari rombongan sekedar ingin berdiam diri dan menikmati suasana hening dari alam. Kembali Wandi dan teman-teman mendirikan tenda untuk mereka beristirahat, karena perjalanan berikutnya yang dihadapi semakin berat mengingat tanjakan semakin curam serta jalanan berpasir mau tak mau membuat langkah kaki terasa berat.

Dini hari sekitar jam 3, kelima sahabat pun bergerak lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Taklama pukul setengah tujuh pagi mereka pun telah tiba di puncak Rinjani, udara dingin berkabut yang menusuk pori-pori kulit mereka membuat penaklukan Rinjani pun hanya dihabiskan tak lebih dari 30 menit.

Perjalanan menuruni puncak Rinjani tak kalah sulitnya dengan menaiki puncak Rinjani ini setengah berlari mesti mampu menjaga kecepatan langkah kaki agar tak terjatuh dan beresiko masuk ke dalam jurang.

Wandi yang ntah mengapa kehilangan keseimbangan akibat adu balap yang berlari menuruni jalanan, tak terasa kaki Wandi pun melompat menjejak batuan, rumputan padat ataupun melompati akar-akar kehilangan keseimbangan membuat dirinya terpeleset dan beban 15 kg di punggung berikut tubuhnya membuat lutut Wandi lecet, jeans yang ia kenakan pun sobek. Beruntung para sahabat yang lain segera menolong Wandi untuk bangkit. Sedikit tertatih perjalanan Wandi akhirnya mereka pun kembali tiba di Pelawangan. Bowo, Tarjo, Hendro dan Kasmin pun bergantian memijat kaki Wandi dan memberikan salep untuk meredakan pegal serta menghilangkan nyeri di kaki Wandi. Hatinya terenyuh saat melihat keempat sahabatnya saling kompak menolong dirinya dengan perhatian yang luar biasa.. menginap di pelawangan selama 2 hari pun dimanfaatkan mereka kembali untuk beristirahat serta menikmati keindahan Danau Segara Anakan. Memancing ikan-ikan yang besar untuk menu makan, berfoto-foto menjadi kegiatan mereka selama disana

Ada sesuatu yang terus terkenang disana, khususnya bagi Wandi

———————————-( to be continued )————————————-


TAGS friendship


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post